Filosofi Mènèk Blimbing : Sebuah Ikhtiar Bertahan
Hidup di Masa Pandemi
Oleh : Alfan Muhyar Faza
Dunia sedang
dilanda malapetaka besar. Semua aspek kehidupan di bumi ini terdampak.
Berdasarkan data Worldometers (per-19, April 2021), total kasus infeksi virus
covid-19 di seluruh dunia telah mencapai 141.982.642 kasus. Kehancuran perlahan
yang disebabkan oleh barang yang tak kasat mata ini menjadi bukti bahwa manusia
adalah makhluk yang membutuhkan Tuhan. Namun, dengan latar belakang kebudayaan
yang maju, bangsa Indonesia seharusnya tidak usah terlalu panik. Leluhur kita
dahulu sebenarnya telah mewarisi kita dengan nilai-nilai yang adiluhung. Baik
yang bersifat lahir maupun batin. Dalam
menghadapi pandemi ini, selain ikhtiar lahir, agaknya kita juga perlu
mengikhtiari batin kita. Di sini nilai-nilai adiluhung tersebut berperan.
Kaitannya
dengan keadiluhungan sebuah budaya, tentunya kita mengenal Walisongo yang
masyhur dengan penyebaran agama islam di Nusantara. KH Agus Sunyoto dalam
bukunya, “Atlas Walisongo” menjelaskan bagaimana islam disebarkan dengan cara
yang amat rapi, terstruktur, sistematis, merasuk ke dalam budaya masyarakat
Nusantara saat itu yang dikenal memiliki karakter yang cenderung kaku. Namun,
dengan penyebaran ajaran Islam yang begitu indah oleh Walisongo menjadikan
agama islam sebagai agama mayoritas di negeri ini. Salah satu aspek kebudayaan
yang mendukung dakwah walisongo adalah melalui tembang Jawa. Dengan segala
kontroversi keotentikannya, tembang Jawa memang sudah menjadi identitas pokok suku terbesar di negeri ini. Salah satu
Wali yang memopulerkan model dakwah seperti itu adalah Sunan Kalijaga. Beliau
mengarang salah satu tembang yang kita kenal, yaitu Lir-ilir. Tembang
yang bersifat didaktik (ajaran) ini memiliki makna yang begitu kompleks.
Sejatinya
kita semua adalah “Cah Angon”
Salah satu bagian dalam cakêpan tembang lir-ilir
telah menyebutkan “Cah Angon” sebagai representasi manusia yang
selalu dihadapkan dengan masalah hidup. Dalam (QS. Al Baqarah : 30), Tuhan
telah menjelaskan maksud penciptaan manusia di bumi adalah sebagai khalifah (pemimpin).
Adanya pemimpin, sudah barang tentu ada yang dipimpin. Ada yang dipimpin,
tentu ada masalah yang harus diselesaikan dengan sistematika atau pola-pola
tertentu. Sunan Kalijaga menggunakan istilah “Cah Angon”, barangkali
sebagai otokritik terhadap realita saat ini. Manusia sebagai “Cah Angon” harus
tetap eling lan waspada terhadap gembala kita, yang tak lain adalah
amal. Dengan masalah apapun, keadaan yang bagaimanapun, termasuk pandemi yang
sekarang sedang mewabah, kita harus tetap ingat bahwa semua itu karena ada yang
Kuasa. Justru, kesempatan ini bisa menjadi sarana mempertebal iman dan bahkan
menjadi ladang pahala karena kita dituntut untuk sabar dalam menghadapi ini
semua.