Rabu, 28 Desember 2022

Filosofi Mènèk Blimbing : Sebuah Ikhtiar Bertahan Hidup di Masa Pandemi

 

Filosofi Mènèk Blimbing : Sebuah Ikhtiar Bertahan Hidup di Masa Pandemi

Oleh : Alfan Muhyar Faza

 

Dunia sedang dilanda malapetaka besar. Semua aspek kehidupan di bumi ini terdampak. Berdasarkan data Worldometers (per-19, April 2021), total kasus infeksi virus covid-19 di seluruh dunia telah mencapai 141.982.642 kasus. Kehancuran perlahan yang disebabkan oleh barang yang tak kasat mata ini menjadi bukti bahwa manusia adalah makhluk yang membutuhkan Tuhan. Namun, dengan latar belakang kebudayaan yang maju, bangsa Indonesia seharusnya tidak usah terlalu panik. Leluhur kita dahulu sebenarnya telah mewarisi kita dengan nilai-nilai yang adiluhung. Baik yang bersifat lahir maupun batin.  Dalam menghadapi pandemi ini, selain ikhtiar lahir, agaknya kita juga perlu mengikhtiari batin kita. Di sini nilai-nilai adiluhung tersebut berperan.

Kaitannya dengan keadiluhungan sebuah budaya, tentunya kita mengenal Walisongo yang masyhur dengan penyebaran agama islam di Nusantara. KH Agus Sunyoto dalam bukunya, “Atlas Walisongo” menjelaskan bagaimana islam disebarkan dengan cara yang amat rapi, terstruktur, sistematis, merasuk ke dalam budaya masyarakat Nusantara saat itu yang dikenal memiliki karakter yang cenderung kaku. Namun, dengan penyebaran ajaran Islam yang begitu indah oleh Walisongo menjadikan agama islam sebagai agama mayoritas di negeri ini. Salah satu aspek kebudayaan yang mendukung dakwah walisongo adalah melalui tembang Jawa. Dengan segala kontroversi keotentikannya, tembang Jawa memang sudah menjadi identitas  pokok suku terbesar di negeri ini. Salah satu Wali yang memopulerkan model dakwah seperti itu adalah Sunan Kalijaga. Beliau mengarang salah satu tembang yang kita kenal, yaitu Lir-ilir. Tembang yang bersifat didaktik (ajaran) ini memiliki makna yang begitu kompleks.

Sejatinya kita semua adalah “Cah Angon”

            Salah satu bagian dalam cakêpan tembang lir-ilir telah menyebutkan “Cah Angon” sebagai representasi manusia yang selalu dihadapkan dengan masalah hidup. Dalam (QS. Al Baqarah : 30), Tuhan telah menjelaskan maksud penciptaan manusia di bumi adalah sebagai khalifah (pemimpin). Adanya pemimpin, sudah barang tentu ada yang dipimpin. Ada yang dipimpin, tentu ada masalah yang harus diselesaikan dengan sistematika atau pola-pola tertentu. Sunan Kalijaga menggunakan istilah “Cah Angon”, barangkali sebagai otokritik terhadap realita saat ini. Manusia sebagai “Cah Angon” harus tetap eling lan waspada terhadap gembala kita, yang tak lain adalah amal. Dengan masalah apapun, keadaan yang bagaimanapun, termasuk pandemi yang sekarang sedang mewabah, kita harus tetap ingat bahwa semua itu karena ada yang Kuasa. Justru, kesempatan ini bisa menjadi sarana mempertebal iman dan bahkan menjadi ladang pahala karena kita dituntut untuk sabar dalam menghadapi ini semua.

 

 

  

           

Filosofi Mènèk Blimbing : Sebuah Ikhtiar Bertahan Hidup di Masa Pandemi

  Filosofi M è n è k Blimbing : Sebuah Ikhtiar Bertahan Hidup di Masa Pandemi Oleh : Alfan Muhyar Faza   Dunia sedang dilanda malapeta...